oleh

Ketika Poskamling Surakarta dan Mahasiswa Biologi Makasar Bertemu di PATABA

BLORA, KAPERNEWS.COM – Setelah akhir tahun 2018 kemarin direvitalisasi, Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (PATABA) kembali dikunjungi oleh para mahasiswa yang ingin belajar tentang sastra. Kali ini ada tiga orang, yaitu dari Makasar, dari Temanggung dan dari Surakarta. Ketiganya ingin belajar tentang sastra di kabupaten yang pada hari jadinya ke-269 tanggal 11 Desember tahun 2018 kemarin mengangkat semboyan Blora Jiwa Nusantara.

“Saya sudah sekitar dua minggu di PATABA. Tujuan saya ke sini pengin belajar menulis”, ujar Bagas (20), seorang mahasiswa jurusan Biologi di Universitas Islam Negeri UIN) Alauddin Makassar di Makasar, Sulawesi Selatan, saat ditemui Kapernews di Cafe 33 Blora, Minggu (10/2/2019) sekitar pukul 17.00 WIB sore.

Ketika ditanya kenapa di PATABA Blora belajarnya, Bagas mengatakan bahwa perpustakaan tersebut cocok bagi dirinya.

“Karena cocok buat saya. Semua orang punya gayanya masing-masing untuk mengekspresikan imajinasinya, dan semua orang berhak akan itu. Tak terkecuali mahasiswa yang mengambil jurusan saintis,” ucapnya.

Di lain sisi, Sigit (23) salah seorang rekannya yang berasal dari Surakarta menjelaskan bahwa sebetulnya keinginan untuk berkunjung ke PATABA sudah lama, tetapi baru kali ini terealisasi.

“Iya, Bang, sebetulnya rencananya sudah lama, tapi baru tadi pagi bisa meluncur. Jadi ini yang pertama kali kita ke Blora,” terangnya.

Lanjut Sigit, kemarin tiba-tiba dirinya mengajak Cliff rekan satu komunitas. Lalu keduanya meluncur berboncengan naik sepeda motor dari Surakarta.

“Ya, dia saya ajak langsung aja. Sebetulnya Sabtu kemarin rencananya. Tapi karena kemalaman, akhirnya baru berangkat Minggu pagi tadi,” ungkapnya.

Ketiga pemuda dengan latar belakang yang berbeda akhirnya bertemu di PATABA Blora.

“Kita padahal gak janjian dengan Bagas. Tadi siang barusan kenal di PATABA Blora. Takdir mempertemukan kita dengan rekan dari Sulawesi ini,” kata Cliff (20) mahasiswa Jurusan Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta ini sembari tersenyum.

Sembari menghabiskan senja, ketiga pemuda ditemani langsung oleh pengelola perpustakaan PATABA Soesilo Toer, M.Sc., Ph.D ngobrol santai sambil menikmati seduhan kopi panas di warung kopi yang terletak di Jl. Sumodarsono Mlangsen Blora.

“Kita di Solo ada komunitas penggemar sastra. Namanya Komunitas Poskamling. Ceritanya, dulu sekitar awal tahun 2018 itu pertamanya di dekat kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kan ada Cafe Baca, semacam perpustakaan di kafe. Ada anak-anak sering ke situ. Awalnya gak kenal. Sama-sama suka baca. Kebanyakan ya ketemu, pergi, terus pulang. Daripada itu kita berikan masukan, ayo kita bikin komunitas saja, buat nampung kita diskusi,” tutur Sigit.

Ketika ditanyakan kenapa komunitas sastranya dinamakan Poskamling yang cenderung bernafas kerakyatan dan bersifat sederhana, hal tersebut dikarenakan dengan sastra rekan-rekan yang ada tidak mau sok-sokan berlagak besar.

“Kenapa di Solo tidak besar, padahal di Jogja bisa segitu besarnya. Akhirnya kita bikin sendiri. Ya udah, ini komunitas dan obrolan berkonsep seperti Poskamling. Bahkan kawan-kawan yang berada di dalam komunitas menyebut diri mereka dengan sebutan “penduduk”. Kalau ditanya siapa pendiri komunitas sastra Poskamling, kalau ada yang berdiri itu yang disebut,” tandasnya sembari berkelakar penuh filosofi seperti orang Samin.

Menurut rekannya satu komunitas, Poskamling itu identik dengan nongkrong, ngopi, baca buku dan ngobrol. Jadi lebih membuat nyaman tanpa ada rasa keakuan diri yang berlebihan.

“Iya, lebih nyaman. Dulu buku pertama yang dibedah di komunitas adalah karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia. Kita waktu itu ada tujuh orang. Ada rekan-rekan mahasiswa yang berasal dari Wonogiri, Kalimantan, Temanggung dan Bogor juga. Bedah buku dilaksanakan mulai sekitar pukul 19.30 WIB hingga 02.30 dini hari,” terang Cliff.

Soesilo Toer (82) pengelola Perpustakaan PATABA yang turut berbincang di sore itu menyatakan bahwa dirinya akan melayani siapapun yang datang di perpustakaan yang koleksi bukunya mencapai 10 ribu eksemplar ini seperti saudara.

“Saya welcome saja, siapapun yang datang saya layani kayak saudara. Nginap boleh. Kita, PATABA punya hal yang khusus soal itu. Tamu kita suguhin minum dan makan juga. Di Lenin State Library yang merupakan perpustakaan terbesar sedunia dengan koleksi jutaan buku saja gak ada seperti ini,” kata Soesilo Toer (82) salah seorang pendiri Perpustakaan PATABA yang didirikan 21 April 2006 ini.

Menurut adik kandung Pramoedya Ananta Toer, seorang bergelar doktor Rusia beragama Islam dan juga mempelajari ajaran Buddha ini, kecuali Afrika, pengunjung PATABA sudah datang dari empat benua.

“Banyak dharma, banyak rejeki. Berbuatlah dharma, dan Anda akan dibimbing dharma Anda sendiri,” jelasnya kepada ketiga pemuda di depannya dengan penuh keyakinan.

Sewaktu dikonfirmasi tentang kunjungan rekan-rekan muda ke Perpustakaan PATABA, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Blora Slamet Pamudji SH, M.Hum mengungkapkan apresiasinya.

“Salut sama rekan-rekan muda, yang walaupun berjarak cukup jauh namun tetap ditempuh, hanya karena ingin belajar sastra di PATABA Blora,” ujar Slamet Pamuji, Minggu (10/2/2019) malam.

Selain Kadinporabudpar, Wakil Bupati Blora, H. Arief Rohman M.Si juga berapresiasi atas kunjungan para pemuda untuk belajar sastra di Kota Samin Blora.

“Salam untuk teman-teman. Terimakasih. Selamat datang di Blora. Semoga akan menambah pengalaman ilmu sastra setelah dari PATABA Blora,” pungkasnya.

Laporan: Eko Arifianto

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed