oleh

Dindalduk dan KB BKKBN Jawa Tengah: Kehamilan Muda Beresiko Bayi Stunting

BLORA, KAPERNEWS.COM – DPR-RI Komisi IX dari Fraksi PDI Perjuangan, Edy Wuryanto, Wakil Bupati Blora bekerjasama dengan BKKBN Provonsi Jawa Tengah mitra kerja menggelar kegiatan Promosi dan KIE Program Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Blora bertempat di Pendopo Balai Desa Sonokidul, Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora, Sabtu (19/11/2022).

Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana BKKBN Jawa Tengah, Lucius Kristiawan dalam sambutannya mengatakan, ibu hamil juga bisa beresiko menghasilkan anak stunting apabila hamilnya terlalu muda atau terlalu tua dan tidak memeriksakan kehamilannya secara teratur.

“Oleh karena itu yang baru memiliki bayi sebaiknya ber KB agar tidak terjadi banyak anak, baru melahirkan dan hamil lagi itu bisa terjadi stunting dan kasihan juga terhadap bayinya,” terangnya.

Lebih lanjut, untuk mengatasi stunting juga perlu adanya asupan gizi yang cukup baik dari ibu hamil dan juga anak-anak balita sehingga ke depan dapat mencetak sumber daya manusia yang cerdas dan kuat.

Sementara itu, Wakil Bupati Blora, Tri Yuli Setyowati mengatakan, Edi Wuryanto datang bersama mitra kerja dan khusus di Desa Sonokidul mau menyampaikan informasiterkait dengan stunting.

“Stunting bukan barang baru tetapi harus kita kurangi. Alhamdulillah setiap kegiatan Pak Edi Wuryanto 90 persen yang rawuh ibu-ibu, tapi Alhamdulillah di Sonokidul sini bapak yang rawuh masih banyak,” terangnya.

DPR-RI Komisi IX, Edi Wuryanto menjelaskan, di Desa Sonokidul paling tinggi stunting dan harus kita pioritaskan karena stunting dananya ada yang bersumber dari dari dana desa, kepala Puskesmas juga dana stunting lalu Dinas Dalduk di Blora.

“Anggaran-anggaran itu perlu disinergikan di lapangan untuk yang namanya intervensi sensitif dan intervensi spesifik,” ungkapnya.

Edi menambahkan, untuk sensitif seperti lingkungan, ada sanitasi yang butuh segera diatasi, ada lingkungan yang tidak sehat diperbaiki tapi yang lebih penting intervensi spesifik.

“Misal di Desa Sonokidul ada 15 kasus maka teman-teman Puskesmas Sonokidul harus kunjungan rumah tangga, tenaga kesehatan harus mendampingi 15 rumah yang anggota keluarga stunting, keluarga harus di pastikan paham apa itu stunting, bagaimana cara mengatasi stunting,” tambahnya.

Kepala Desa Sonokidul, Subari memaparkan, untuk stunting di Sonokidul sebelum pandemi ada 15 kasus, dan setelah pandemi ada 18 kasus stunting.

“Saya tidak tahu bagaimana bisa nambah. Dengan progam pencegahan seperti ini bisa memacu untuk merubah kehidupan yang sudah lalu agar masyarakat bisa berubah lebih baik,” ujarnya.

(Abu Sahid/ Eko Arifianto)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *