Harga Terus Merosot, Petani Cabai di Blora Rencanakan Aksi

0
3110

BLORA, KAPERNEWS.COM – Dengan harga cabai yang semakin tidak menentu dan tidak adanya perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten setempat, ada rencana petani-petani cabai di Kabupaten Blora melakukan aksi turun ke jalan menyuarakan apa yang menjadi keluh kesahnya selama ini.

Hal ini salah satunya dipicu dengan harga jual cabai merah keriting di tingkat petani yang semakin merosot tajam. Bahkan dari tangan petani Desa Tambahrejo, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah menyentuh harga 3500 rupiah.

Hingga sampai sore ini, Selasa, 12 Februari 2019, menurut petani cabai desa setempat yang didapat adalah harga terendah yang diterima oleh petani di musim panen tahun ini. Yaitu lebih rendah dari harga terendah tahun-tahun sebelumnya yaitu di angka 13 ribu rupiah per kilogram.

“Abuk lan obat larang, tapi rega lombok mung 3500 rupiah, piye, wong tani po ra kudu nangis (Pupuk dan obat mahal, tapi harga cabai hanya 3500 rupiah, gimana, orang tani apa gak ingin menangis),” ujar Sugeng (40) petani cabai Dukuh Triteh, Desa Tambahrejo, Kecamatan Tunjungan dengan nada lesu, Selasa (12/2/2019) sore.

Menurut Sugeng, dengan harga jual cabai yang sangat murah tersebut, membuat nasib petani semakin sengsara.

“Terus terang, Mas, di samping profesi tani yang menjadi mata pencaharian utama saya untuk menghidupi kedua anak dan istri, beban pundak saya kini semakin berat dalam mengembalikan pinjaman uang bank yang saya gunakan sebagai modal awal untuk memulai musim tanam cabai ini,” ungkap lelaki paruh baya ini.

Menurut Sugeng, Desa Tambahrejo adalah sebuah desa yang mayoritas petaninya menanam cabai. Hal tersebut menjadikan Desa Tambahrejo menjadi salah satu desa sentra penghasil cabai terbesar di Kabupaten Blora. Mulai cabai merah keriting kecil sampai cabai merah keriting besar.

“Harga yang terlalu anjlok membuat para petani saat ini merasa kehilangan gairahnya untuk merawat maupun memetik cabai yang sudah memerah siap panen. Dengan harga cabai hanya 3500 rupiah, mau tak mau petani harus membagi setengah dari hasilnya untuk membayar ongkos tenaga petik. Dengan asumsi per orang tenaga petik mampu mendapatkan satu karung besar dengan berat 40 – 50 kilogram,” terangnya.

Senada dengan Sugeng, penjual pupuk dan obat-obatan pertanian yang biasa minum kopi bersama para petani di Dukuh Pendem juga menuturkan bahwa harga cabai yang merosot tajam akhirnya membuat permintaan obat dari para petani juga berkurang karena petani yang merasa biaya perawatan yang mahal.

“Bahkan di masa hama ulat yang menyerang wilayah pertanian desa begitu banyaknya, petani lebih memilih membiarkannya,” terang Abdul Jalil (40) pria penjual pupuk warga Desa Tambahrejo singkat.

Laporan: Eko Arifianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here